PLANET OF MIND - A Saudade Feeling

Juni 13, 2020


Karena sejatinya, semua itu memiliki MASA


Jujur, bahasan tentang masa atau waktu itu kadang suka bikin perasaan campur aduk. Senang, merinding, bergidik, jengkel, sedih, penasaran, semuanya bisa terjadi karena sebuah masa. Ada yang dibawa ke kutub bahagia, tapi ada juga yang dibawa ke kutub sedih. Namun tak jarang pula ada yang hanya dibawa tidak jauh dari poros tengahnya, alias perasaan yang biasa-biasa aja.

Tapi yang pasti semuanya itu berproses menuju masanya. Ada kalanya kita naik, ada kalanya kita turun. Ada kalanya kita pergi, ada kalanya kita pulang. Ada kalanya kita bertemu, dan ada pula kalanya kita berpisah.

Banyak cerita yang tercipta ketika kita berproses dalam masa. Saking banyaknya, pasti ada yang menjadi cerita yang terbuang, dan ada cerita yang melekat pada kita. Semakin dekat kita dengan subjeknya, semakin lekat pula ceritanya.
Seperti kisahku ketika berada di kota ini. Dalam 3 tahun ini, kalau aku merasakan hanya sebagai sosok sosial, maka aku berani bilang kalau waktu berlalu begitu cepat. Ngga kerasa, ternyata sudah cukup lama aku menjelajah kota baru yang tidak pernah terlintas di pikiranku untuk menetap. Kenapa cepat? Karena ternyata banyak dari mereka, yang dunianya masih satu frekuensi denganku (walaupun dengan segala keanehanku), mengisi hari-hariku dan menggantikan peran keluarga serta sahabatku yang ada di kampung halaman. Peran merekalah yang membuatku tak terasa bahwa aku telah menghabiskan senja dengan lahap, dan sering kali tak sabar menunggu sang fajar muncul dari ufuknya. Dari situlah, aku berhasil membuat masa bergerak dengan sangat cepat.
Namun ketika aku melihat diriku sebagai sosok individu, aku merasa bahwa dunia memutarkan detiknya dengan begitu lambat. Ya! Karena aku tak siap akan proses pertemuanku dengan sebuah perpisahan. Perasaan menyangkal inilah yang membuatku memaksa waktu berdetik melambat. Aku tersadar, bahwasanya aku tidak siap akan sebuah kekosongan yang terjadi akibat perpisahan. Walaupun banyak yang bilang, “Tenang! Proses penyembuhannya hanya butuh pembiasaan. Agar ruang kosong itu tertutup oleh kenangan baru dari orang baru lainnya”. Namun kupikir, tidak semudah itu untuk mengembalikan ruang 'kosong' itu. Beberapa dari mereka bisa dengan mudah menutupnya. Tapi bagiku, menutupnya butuh tenaga yang besar. Apalagi ketika orang itu begitu lekat dalam kehidupan sehari-hariku. Dan ternyata, tenaga besar itu tidak akan berproses dalam angan yang kuharap hanya sebentar.

Lagi-lagi ini masalah masa.

Maka pada-Nya aku berpasrah, berharap akan dua hal. Pertama, bertemu dengan orang baru yang tak kalah asik seperti kalian. Atau yang kedua, berharap tuk dapat menikmati jalannya masa dengan santai hingga kita bertemu kembali dalam sorak-sorai. Dari keduanya, aku kan berteman baik dan berproses bersama masa hingga Tuhan menjawab satu di antara kedua pilihan itu.

Sampai bertemu di sudut selanjutnya.

___________________________

Kalian, yang pernah menginjak di buku kehidupanku. Aku ucap terima kasih karena telah meninggalkan lekat. Kita telah berproses bersama, entah kalian sadari atau tidak. Dan jangan sekali-kali ada dari kita yang berpikir, bahwa tidak akan ada lagi pertemuan setelah perpisahan. Sampai sekarang aku selalu percaya, tidak ada yang abadi di dunia ini. Pun dengan perpisahan. Selama kita masih bisa melihat langit yang sama, maka teruslah mengirim kabar. Dan biarkan rindu terpupuk dengan sendirinya. Agar ketika kita bertemu, kita bisa kembali menuai gelak tawa bersama.

(Agustus 2017)


(Desember 2018)


(Maret 2019)


(April 2019)


(Juli 2019)


(Oktober 2019)


(Juni 2020)


You Might Also Like

0 komentar

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images

Subscribe