Hola!
Daycation nekat ke IJEN versi kami, cewe-cewe yang (sok) Tangguh
Let's get flashback!
namun ternyata harapan itu kandas seperti beberapa batang coklat yang telah berpindah dari dalam tas ke perut kami. Banyaknya pengunjung kala itu, membuat Ijen terlihat dipenuhi oleh manusia, dan blue fire pun hanya bertengger di angan. Setidaknya, kami telah menjejak di kawah yang mana ribuan bahkan jutaan orang sebelum kami telah menyaksikan keindahan blue fire secara langsung. Energi itulah yang membuat kami seperti melihatnya secara langsung, sama seperti pengunjung sebelum kami.
04.30 WIB
Udah lama banget banget pengen nulis perjalanan singkat kami ke Ijen, Banyuwangi. Tapi mohon maaf, baru kesampean nulis setelah hampir 2 tahun dari perjalanan yang kami lakukan di 2018 lalu dengan modal Nekat.
Daycation nekat ke IJEN versi kami, cewe-cewe yang (sok) Tangguh
Let's get flashback!
Flashback bagiku adalah tiket masuk ke wahana imajinasi untuk jalan-jalan. Atau bahasa gampangnya, flashback adalah modalku untuk bisa kembali jalan-jalan. Memori ingatan dan galeri handphone tentunya menjadi tour guide-nya. Mau gimana lagi? Corona Situasi ini mendorong kita untuk ngga bisa jalan-jalan kemana pun, sebebas apa pun yang kita mau. Yang dulunya bisa sebulan sekali main tipis (ini beneran terjadi, hampir tiap bulan aku dan temen-temen kerjaku dari kota sekitar selalu mengagendakan main bareng kemana pun itu), dan sekarang main tipisnya paling ke minimarket terdekat buat beli kebutuhan sehari-hari. Itu pun tidak bisa kita lakukan tiap saat. Jadi, satu-satunya cara adalah dengan mencari folder 'travelling' kita, lalu membukanya dan kembali play video-video yang ada disana.
Sabtu, 5 Agustus 2018
13:00 WIB
Dengan bermodal jaket tipis yang kami beli secara mendadak beberapa hari sebelum keberangkatan, sarung tangan, dan beberapa batang coklat di tas, kami berangkat dari sebuah kota di Jawa Timur. Kami ber-5, wanita semua di dalamnya, mencoba mengendarai mobil sendiri menempuh perjalanan 5 jam lamanya. Rencana perjalanan yang tercetus 5 hari sebelumnya ini, pada awalnya hanya akan berangkat dengan formasi ber-4 (aku, Kak Restu, Uni Nia, Mba Fath). Rencana berubah, kami akhirnya berangkat ber-5 (ada 1 tamu dari Jakarta yang kami ajak tamasya bersama) dengan sistem mengendara berganti tiap selesai berhenti solat. Dan aku, kebagian untuk mengendarai ketika suasana sudah gelap. Setelah solat maghrib di sebuah masjid di pinggir jalan raya, aku yang baru bisa bawa mobil, dengan modal nekat aku membawa mobil seperti supir bus akap dengan kecepatan yang aku pun sebenarnya berkeringat memegang stir mobil tersebut. Sesampainya di Jember, kami berkumpul dengan temen-temen dari kota lain dan melanjutkan perjalanan kembali sampai Banyuwangi.
23:00 WIB
Sesampainya di tempat parkir Gn. Ijen, kurang lengkap kalau ngga pesan pop mie untuk menghangatkan tubuh yang mulai kedinginan di bawah suhu belasan derajat celcius sembari menunggu datangnya waktu pendakian. Satu jam kemudian, ketika dirasa sudah mulai cukup kuat untuk mendaki, kami ber-5 bersama rombongan temen-temen kami yang lain akhirnya memulai perjalanan. Sebelum memulai perjalanan, ada masker yang wajib kami pakai untuk melindungi nafas kami ketika sedang dekat dengan lokasi belerang.
Walaupun sebutannya sebagai gunung, Ijen tidak menawarkan pendakian yang lebih struggling dibanding gunung asli lainnya. Karena ini merupakan kawah tinggi, perjalanan selama 4 jam pun sepertinya cukup bisa ditempuh untuk kami yang sudah mulai lemah secara raga dan tenaga karena tak pernah olah raga dan tak pernah naik gunung lagi. Beberapa kali kami tertinggal hanya untuk mengambil nafas panjang dan menepuk-nepuk lutut memberikan semangat pada sendi-sendi kami yang mulai lelah. Aku dan Mba Fath sepertinya berteman lebih dekat karena kami lah yang selalu tertinggal, sedang Uni Nia sudah melesat di depan tak tahu berjarak berapa meter dengan kami.
Minggu, 6 Agustus 2018
04:15 WIB
Blue Fire. Keajaiban alam yang katanya hanya ada dua di dunia. Sudah pasti, salah satu tujuan kami ke Ijen adalah untuk melihat blue fire yang sungguh sangat indah ini. Setelah 4 jam an pendakian kami ke lokasi kawah, ternyata perlu turun untuk bisa melihat blue fire lebih dekat dan lebih jelas. Ekspektasi kami jelas, kami bisa melihat blue fire secantik ini:
namun ternyata harapan itu kandas seperti beberapa batang coklat yang telah berpindah dari dalam tas ke perut kami. Banyaknya pengunjung kala itu, membuat Ijen terlihat dipenuhi oleh manusia, dan blue fire pun hanya bertengger di angan. Setidaknya, kami telah menjejak di kawah yang mana ribuan bahkan jutaan orang sebelum kami telah menyaksikan keindahan blue fire secara langsung. Energi itulah yang membuat kami seperti melihatnya secara langsung, sama seperti pengunjung sebelum kami.
04.30 WIB
Sembari menunggu matahari terbit, kami mencari sudut ternyaman untuk menjadi egois menikmati indahnya matahari yang perlahan naik dari persembunyiannya. Kami menunggu dengan bergantian solat subuh beralaskan syal sebagai sajadah, dan menjadikan debu sebagai pengganti air wudhu kami. Dan mashaAllah, tiada kata lagi yang bisa kami ucap sembari melihat sang surya mulai mengintip. Jujur sunrise ini lebih menarik mataku dibanding yang ada di Bromo karena sinarnya berada tepat di belakang kawah, sedang di Bromo jarak antara sinar matahari yang terbit dengan Bromonya masih jauh (sunrise di sebelah kiri dan kawah Bromo di sebelah kanan). Dengan ditemani warna tosca dari kawah, kabut yang menyelimutinya, serta warna kawah yang sungguh menawan, membuatku lupa kalau suhu sudah hampir mencapai 0°C.
07:00 WIB
Setelah kembali bersama pasukan, kami melakukan perjalanan turun karena aroma belerang sudah benar-benar menusuk dinding hidung kami. Perjalanan tadi malam yang hanya ditemani gelap, pagi ini kami menyaksikan pemandangan yang menakjubkan di sekililing kami. Sungguh, perasaan ini lah salah satu perasaan yang amat dirindukan dari perjalanan sebuah pendakian.
13:00 WIB
Setelah selesai makan pentol korea di parkiran kawah ijen, kami memutuskan untuk pulang dan berpisah dengan rombongan lainnya yang lanjut ke air terjun karena kami masih membutuhkan perjalanan 8 jam kembali ke kota kami.
Perjalanan pulang berkelok tebing yang kami lewati dihiasi oleh klakson tipis yang dilontarkan tiap kali akan berlikuk ke kanan atau kiri. Yah, itung-itung sebagai sinyal ke pengendara lain agar berhati-hati bahwa mobil kami berdua bisa saja berpapasan. Setelah liku tak begitu jamak seperti sebelumnya, tawa kami mulai tergema lebih kencang dalam mobil, hingga akhirnya spion kanan mobil kami tak sengaja bertemu dengan spion mobil dari arah berlawanan yang melaju cepat. Hingga terlihat bayangan sebuah benda seukuran spion terlempar jauh. Kami berhenti. Mobil itu pun berhenti. Tak ada satu pun dari kami yang berani turun, menunggu mobil itu untuk menghampiri kami. Sampai di detik ini kami masih berpikir kalau spion yang melayang adalah spion kami, sambil membayangkan berapa uang yang harus kami keluarkan untuk memperbaikinya. Tapi ternyata, spion yang jatuh itu adalah spion mobil lawan kami. Sedikit lega, mobil besar ini ternyata sekuat gajah jika dibandingkan mobil lawan kami. Dan kami sama-sama diam di dalam mobil, tak bergeming beberapa waktu walau kami tahu mereka lah yang salah karena kecepatan mereka yang tak wajar. Kami terdiam sampai akhirnya mobil lawan memutuskan untuk melanjutkan perjalanan dan kami pun turut pergi meninggalkannya.
Inilah kami, 4 cewe dengan modal nekat bawa mobil sendiri ke Banyuwangi berjam-jam, mendaki, dan pulang bawa mobil sendiri lagi (lalu siapa lagi? kalau bukan kami lagi kami lagi hehe)
Sampai bertemu di sudut selanjutnya!
Dan berikut data pengeluaran kami untuk berangkat ke Ijen:
Bensin 100.000
Makan KFC (Sabtu) 30.000
Popmie 10.000
Masuk Ijen (sekitar) 20.000
Sewa masker 15.000
Pentol korea 5.000
Makan (Minggu) 25.000
TOTAL 205.000
07:00 WIB
Setelah kembali bersama pasukan, kami melakukan perjalanan turun karena aroma belerang sudah benar-benar menusuk dinding hidung kami. Perjalanan tadi malam yang hanya ditemani gelap, pagi ini kami menyaksikan pemandangan yang menakjubkan di sekililing kami. Sungguh, perasaan ini lah salah satu perasaan yang amat dirindukan dari perjalanan sebuah pendakian.
13:00 WIB
Setelah selesai makan pentol korea di parkiran kawah ijen, kami memutuskan untuk pulang dan berpisah dengan rombongan lainnya yang lanjut ke air terjun karena kami masih membutuhkan perjalanan 8 jam kembali ke kota kami.
Perjalanan pulang berkelok tebing yang kami lewati dihiasi oleh klakson tipis yang dilontarkan tiap kali akan berlikuk ke kanan atau kiri. Yah, itung-itung sebagai sinyal ke pengendara lain agar berhati-hati bahwa mobil kami berdua bisa saja berpapasan. Setelah liku tak begitu jamak seperti sebelumnya, tawa kami mulai tergema lebih kencang dalam mobil, hingga akhirnya spion kanan mobil kami tak sengaja bertemu dengan spion mobil dari arah berlawanan yang melaju cepat. Hingga terlihat bayangan sebuah benda seukuran spion terlempar jauh. Kami berhenti. Mobil itu pun berhenti. Tak ada satu pun dari kami yang berani turun, menunggu mobil itu untuk menghampiri kami. Sampai di detik ini kami masih berpikir kalau spion yang melayang adalah spion kami, sambil membayangkan berapa uang yang harus kami keluarkan untuk memperbaikinya. Tapi ternyata, spion yang jatuh itu adalah spion mobil lawan kami. Sedikit lega, mobil besar ini ternyata sekuat gajah jika dibandingkan mobil lawan kami. Dan kami sama-sama diam di dalam mobil, tak bergeming beberapa waktu walau kami tahu mereka lah yang salah karena kecepatan mereka yang tak wajar. Kami terdiam sampai akhirnya mobil lawan memutuskan untuk melanjutkan perjalanan dan kami pun turut pergi meninggalkannya.
Inilah kami, 4 cewe dengan modal nekat bawa mobil sendiri ke Banyuwangi berjam-jam, mendaki, dan pulang bawa mobil sendiri lagi (lalu siapa lagi? kalau bukan kami lagi kami lagi hehe)
(dari kiri ke kanan: Kak Restu, Uni Nia, aku, dan Mba Fath)
Sampai bertemu di sudut selanjutnya!
Dan berikut data pengeluaran kami untuk berangkat ke Ijen:
Bensin 100.000
Makan KFC (Sabtu) 30.000
Popmie 10.000
Masuk Ijen (sekitar) 20.000
Sewa masker 15.000
Pentol korea 5.000
Makan (Minggu) 25.000
TOTAL 205.000





















































